search

bermonolog

[bermonolog]: blog ini dibuat sebagai salah satu komunikasi dengan diri sendiri

more from the blog

Slice of Life : Bagian 2 "Dieng"

Bukit Sukinir Dieng
(Koleksi Pribadi: Bukit Sikunir)



2021 menjadi tahun yang luar biasa. Walau dengan adanya pandemi, saya jadi punya cukup banyak kenangan di tahun ini.  Mulai dari awal tahun yang disibukan dengan tugas akhir, dilanjut dengan adanya Kuliah Kerja Nyata (KKN) hingga sampai di bulan september punya ceritanya masing-masing. 

Judul di atas sudah sangat jelas apa yang akan diceritakan pada postingan ini. Lebih tepatnya tiga hari dua malam di Dieng bersama teman-teman KKN. Perjalanan dimulai dari Solo dengan menggunakan sepeda motor yang berjumlah tujuh orang dan empat sepeda motor. Kami pergi di bulan April tepatnya pada 7 April 2021. Alhamdulillah, perjalanan kami lancar dan sampai tujuan Dieng dengan selamat. Seingat saya, kami pergi kurang lebih pukul 10.30 dan sampai tujuan sekitar setengah empat sore. Cuaca waktu itu juga mendukung, tidak begitu panas dan juga tidak hujan. 

Agenda kami di Dieng yaitu pergi ke Bukit Sikunir Dieng, Candi Arjuna dan Bukit Ratapan Angin. Hari pertama sampai, kami langsung istirahat. Pada malam harinya,  kami makan Mie Ongklok yang pasti wajib di coba ketika teman-teman berkunjung ke Wonosobo sekitarnya. Tetapi untuk objek wisata yang disebutkan masuk daerah Dieng, Banjarnegara ya. 

Bukit Sikunir 

Bukit Sikunir
(Hasil Jepretan Cana: Bukit Sikunir)

Mulai dihari kedua, sebelum subuh kami sudah bersiap pergi ke Bukit Sukunir dengan suhu yang sangat dingin sekaligus malas gerak untuk kami yang melalui perjalanan jauh. Tepat sekitar jam 4 subuh kami bergegas untuk naik ke arah Bukit Sikunir dan dari penginapan sekitar 5 menit saja. Jarak pandang untuk pemotor sangat dekat ya, karena kabutnya tebal sekali. Saya dan teman jadi yang paling depan ditambah kami berdua minus makin nambah jarak pandangnya pendek sekali. Apalagi jalanan agak licin sehabis hujan. Seingat saya, tiket per orang itu Rp 10.000,- dan sampai di tujuan kami melakukan solat Subuh baru melanjutkan naik ke Bukit Sekunir. 

Oke, memang tidak lama untuk naik sampai puncak. Tetapi bagi saya yang sangat minim olahraganya, napas udah satu dua, engap sekali teman-teman. Naik maupun turun tangganya harus hati-hati karena jalannya cukup licin. Ternyata sampai puncak sudah cukup banyak orang yang berada disana. Tapi sayang, kami tidak mendapatkan sunrise. Kabut malah semakin tebal dan baru muncul matahari sekitar pukul 6. Ya, tidak apa-apa, sensasinya tetap dapat ya, pengalaman ngap-ngapan naik Sikunir tetap saya rasakan. 

Candi Arjuna - Kawah Sikidang 

Candi Arjuna
(Koleksi Pribadi: Candi Arjuna) 

Agenda satu selesai, lanjut pulang dan sarapan untuk melanjutkan agenda ke Candi Arjuna. Candi Arjuna ya seperti candi pada umumnya. Tapi yang perlu teman-teman tahu, ketika membeli tiket Candi Arjuna free masuk ke Wisata Kawah Sikidang, begitu juga sebaliknya. Masuk dan jalan-jalan di kawasan Candi Arjuna tidak lama dan langsung mencoba ke Kawah Sikidang. Dari dua tempat yang tadi dikunjungi, menurut saya yang paling banyak pengujung di kawasan Kawah Sikidang. Bagi yang tidak suka bau belerang pasti akan sangat terganggu dengan baunya.  Bahkan dari kejauhan baunya sudah dapat dirasakan. Jadi buat yang nggak tahan baunya, bisa pikir ulang kalau kesini. Tapi bagi yang penasaran, tidak ada salahnya untuk mencoba karena lumayan kan beli 1 tiket dapat 2 tempat wisata. 

Kawah Sikidang
(Koleksi Pribadi: Kawah Sikidang)

Ketika masuk kawasan Kawah Sikidang, teman-teman akan melalui jembatan kayu dan beberapa pondok untuk beristirahat. Jembatan ini akan mengantarkan wisatawan ke lubang kawah. Pemandangan yang khas dan masih sangat asri bisa dijumpai di kawasan Kawah Sikidang.  Jika kalian ingin membeli oleh-oleh, sepanjang jalan keluar banyak pedagang yang menjual buah tangan khas Wonosobo dan sekitarnya. Tetapi, masih banyak juga kios-kios yang masih kosong. Siap -siap bawa payung ya atau topi, karena meskipun ada pondok atapnya terbuat dari kaca /transparan gitulah ya.

Bukit Pandang Ratapan Angin 

Bukit pandang ratapan angin
(koleksi pribadi : satunya ngefotoin) 


Nah, karena tadi jalan mengitari kawasan Candi Arjuna dan Kawah Sikidang udah ngebuat kaki pegal-pegal, kami memutuskan untuk istirahat dan makan siang dulu. Selepas ashar, kami baru naik lagi untuk ke Bukit Ratapan Angin. Sebenarnya, dari lepas Ashar cuaca tidak mendukung. Langit sudah mendung dan ada kilatan -kilatan mendandakan hujan akan segera turun. Tapi ya kami nekat aja, sayang sudah sampai disini belum ke Bukit Ratapan Angin. Lalu, kenapa kami memilih Bukit Ratapan Angin bukan Telaga Warna ? Karena kalau cuaca mendukung, Telaga Warna juga akan terlihat di Bukit Ratapan Angin. Jadi hemat gitu, maklum anak kos-kosan. Lagi dan lagi, namanya bukit harus siap -siap engap buat naik-naik. Sampai pada spot yang dituju, langit sudah sangat gelap dan mendung serta sedikit gerimis. Jadinya, sampai terus foto-foto dan berteduh. Padahal anginnya enak banget, pemandangan dengan cuaca nggak bagus aja enak. Apalagi datang dengan cuaca bagus pasti Telaga Warnanya keliatan banget berubah warnanya. 

Hari kedua ditutup dengan gerimis sepanjang penginapan. Pastinya hari ketiga selepas solat Jumat, baru kami bersiap -siap untuk pulang ke Solo.  Pas di perjalanan pulang saya sempat terpisah dari rombongan, karena jalanan cukup padat yang lain udah pada nyalip sana sini, kita masih di belakang. Jadi ketinggalan jauh.... mana hapenya nggak ada sinyal, hape temenku juga sama. Sempat nyasar dan hampir jatuh (hampir) karena ada pasir campur kerikil di tingkungan gitu.  Akhirnya, kita mutusin buat jalan terus aja sampai nemu tempat ada sinyal untuk cek arah dan liat ada yang ngechat di grup apa nggak. Dan...yak kita ketinggalan dan janjian buat ketemuan di Ketep Pass Magelang. Cuaca pas pulang cukup mendung ya, sampai di Magelang sudah mulai gerimis yang cukup deras tapi kita mutusin nggak pakai mantel sampai nemu yang lain. Pas banget sampai di Ketep Pass dan hujan cukup deras. Padahal kalau tadi nggak kepisah dan nggak hujan, kami mau makan yang ada pemandangan Gunung Sindoro (seingetku). Berhubung sebelum pergi, kami masak dulu buat bekal biar hemat tentunya. Sayang, cuaca nggak mendukung. Sampai di perbatasan Solo hujan udah mulai reda dan Alhamdulillah sampai Solo dengan selamat dan nggak kurang apa pun. 

Doneeee ! 



*note: salah satu wishlist saya bisa keliling wisata di Dieng dan akhirnya tahun ini kesampaian dengan budget serba pas-pasan, asyikkkk. Terima kasih yang buat kalian yang udah ngajakin main ya. 


Terima kasih sudah membaca ya ! 


Salam hangat, 



Cahya Isnaini 

Comments

Profile Photo

About Cahya

Profile Bio

Hai, saya Cahya !


Suka nulis tapi kadang-kadang.


Please, send me a hello :)
cahyaisnainii@gmail.com


Instagram